Friday, February 13, 2009

terima kasih Tuhan…

Pagi itu aku dikejutkan dengan hasil test yang rasanya membuat jantungku copot, jatuh sampe ke jempol kaki. Dua garis? Positif? Oh No….., itulah pikiran yang terlintas saat mengetahui bahwa aku sedang hamil (lagi!), mana saat itu nggak ada yang bisa aku ajak bicara, Roy sedang di S’pore karena ada pertandingan. Nggak sabar nunggu dia pulang rasanya.

Beberapa menit kemudian aku pun dikejutkan dengan berita kepergian Denzel, anak dari sahabat masa kecilku di Tarki dulu. Akhirnya Tuhan memanggil anak tak berdosa itu setelah berminggu-minggu berjuang melawan Rhabdomyosarcoma, sejenis kanker otot yang diketahui sudah mencapai stadium akhir. Bocah 22 bulan itu pun berpulang kepadaNya.

Ada semacam perasaan aneh dalam hati ini. Baru saja aku mengetahui ada kehidupan baru didalam badanku, seorang calon bayi mungil, yang hadir tanpa diduga dan direncanakan, dan ada perasaan kuat menolak kehadirannya. Disisi lain, begitu banyak keluarga yang mendambakan kehadiran buah hati mereka akan tetapi hingga saat ini masih terus berharap. Juga sebuah keluarga yang teramat sangat mengharapkan kehadiran seorang bocah kecil, ketika anak itu lahir, kemudian dia dipanggil kembali mengharapNya. Tentunya kejadian tersebut membuat sebuah bekas luka yang teramat dalam bagi orangtuanya.

Hari Minggu itu lewat begitu cepat…, aku nggak sempat memikirkan tentang kehamilanku lagi karena seharian sibuk membantu proses pemakaman. Aku sempat sms Roy dan menyampaikan berita kehamilan ini, dia juga shock. Dalam sms-ku aku hanya menulis singkat, “Roy, I’m not ready!” dan dijawab singkat juga, “Me too!”

Hampir tengah malam Roy pulang dan kami sama-sama memutuskan bahwa kami sungguh-sungguh tidak siap menerima kehadiran bayi tak berdosa ini.

Senin sore kami berdua mengunjungi dokter kandungan, memeriksakan diri dan menyampaikan bahwa aku sudah positif hamil. Kami menyampaikan alasan-alasan kenapa kami tidak siap menerima kehadiran anak ini. Alhamdulillah kami memiliki dokter yang amat sangat bijaksana, tidak memikirkan hanya materi. Beliau menasehati kami, berbicara dari hati ke hati dan menguatkan kami bahwa kami harus mempertahankan anak ini.

Kami tetap pada keputusan tidak siap.

Sampai akhirnya dokter mengatakan, “Coba kita periksa dulu keadaan janin-nya.” Aku tetap diam, nggak tahu harus berbuat apa dan berkata apa lagi. Pada saat mataku menatap layar monitor, terlihat jelas sebuah janin bergerak-gerak, pada saat yang sama dokter membesarkan volume sehingga terdengar jelas suara yang jantung yang begitu keras dan teratur. Aku tetap menatap layar monitor dan tanpa terasa air mataku menetes dan tidak mau berhenti menetes.

Ya Tuhan…., aku berdosa telah menolaknya, tidak menginginkan kehadirannya. Detak jantungnya itu begitu keras berbunyi, seolah-olah berteriak ingin menyampaikan pesan kepadaku, “mom…, don’t kill me!” Hanya dalam hitungan detik keputusan bulat tersebut telah berubah.

Dokterku hanya menyampaikan pesan padaku, “kamu coba dengarkan benar-benar apa kata hati kamu, jangan memikirkan suami atau siapapun, karena apa yang kamu rasakan hanya badan kamu yang tahu karena dia ada didalam badan kamu”. Aku sama sekali tidak melihat Roy dalam pengambilan keputusan ini karena apapun keputusanku, aku amat yakin dia pasti memberikan dukungan.

Tidak ada kata-kata yang paling tepat yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Kami bersyukur Tuhan telah memberikan kepercayaan kepada kami sekali lagi, dengan menitipkan anak ini kepada kami. Saat aku mencoba memikirkan keluarga-keluarga lain diluar sana, yang amat sangat mendambakan buah hati, kehilangan buah hati, perasaan itu makin kuat. Aku akan membesarkan dan mendidik anak ini, titipanNya yang amat sangat berharga. Kami bersyukur atas karunia ini dan mohon ampun karena sesaat kami terlalu memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi yang membuat kami sempat menolaknya.

Saat ini kami bersuka cita mempersiapkan kehadiran malaikat kecil dalam rumah kami. Tuhan telah memberikan kami dua orang malaikat yang awalnya kami pikir cukup, ternyata karunia memang tidak bisa kita tolak, jika Dia menginginkan itu terjadi pada kita. Kami diberikan rejeki untuk menerima malaikat ketiga. Rumah kami akan bertambah ramai.

Hal-hal lain telah kami pasrahkan padaNya. Biarlah semua diatur olehNya. Kami yakin semua sudah dipersiapkan untuk meyambut kehadiran malaikat kecil kami.

3 comments:

woro woro said...

duh, mrinding aku baca tulisan mbak ini... jadi teringat diri sendiri. sekarang belum merasa siap dititipi amanah seorang anak. tapi entah ketika Allah emang berkehendak menitipkannya lagi... tulisan mbak jadi mengingatkan aku lagi agar tidak egois terhadap diri sendiri

titien irvianty said...

aduh.... pokoknya keputusan tersebut akhirnya diambil setelah mengalami dilema yang cukup tidak membuat kami nyaman. nggak enak banget rasanya tapi akhirnya kami bisa melewatinya. alhamdullillah kami mengambil keputusan tepat mempertahankan kehamilan ini. memang kadang kita sering mendahulukan hal-hal dunia dan kurang memasrahkan diri kepadaNya.

AFS'site said...

Waduuhh...
napa mbak ??
Saya dan istri saya malah seneng ..
belum lama istri saya tercinta nyusul saya ke Banjarmasin sebagai t4 kerja baru saya..
eeehh.. hasil nya garis 2..
yaa... syukur deh..
padahal si abangan masih 19 bulan...
Tapi iya juga sih yaaa....
Planning orang khan masing2 yaaa...??
Tq