Tepat 3 hari setelah kepulangan papa Roy dari Hongkong tiba-tiba aku dikejutkan oleh telpon dari mbak Didit, pagi-pagi pas lagi dikantor ”mbak, ini Didit lagi dikandang. Pak Roy kesakitan, saya lagi nunggu taksi mau bawa beliau ke rumah sakit.” Singkat dan jelas tapi membuat aku shock bukan kepalang.
Langsung pertanyaan-pertanyaan dan dugaan-dugaan mampir dikepala.
”Roy jatuh dari kuda mbak? Sekarang gimana? Saya bisa bicara?”, pertanyaan panik. ”Nggak mbak, nggak jatuh”, lalu aku lanjut tanya ”Punggung nya sakit lagi?”
Nggak sabar rasanya, tapi menurut mbak Didit, Roy gak jatuh sama sekali, nggak mengeluh sakit punggung tapi malah sakit dibagian perut. Sakit luar biasa sampai-sampai dia harus digotong begitu turun dari kuda. Tanpa pikir panjang aku memutuskan langsung kerumah sakit, sementara mbak Didit masih menunggu taxi. Duh..., saat-saat kayak gini Yono nggak ada, beli makanan anjing katanya. Gak tepat waktu banget.
Sampai Rumah Sakit Puri Cinere aku langsung menuju UGD, lihat kebagian dalam belum ada tanda-tanda ada Roy disana. Telpon mbak Didit ternyata masih didekat perempatan bekas bioskop Dinasti, macet. Nunggu gini rasanya nggak enak banget ya karena aku kan nggak tahu pasti keadaan Roy, nggak tahu pasti seberapa sakit dia, nggak tahu pula sakit apa.
Setengah jam lewat, akhirnya Roy datang ditemani mbak Didit dan pak Ketut. Nggak bisa keluar dari taksi karena kesakitan, pake kursi roda. Aduh, aku nggak tega ya liat dia kayak gitu, menderita sekali. DI UGD langsung ditanya sakit dibagian mana, tapi Roy nggak bisa menggambarkan secara jelas sakit dibagian apa. Dia hanya memegang perut bagian kiri bawah, ditanya pun nggak bisa jawab. Yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata ”aduh.... sakit.., aku nggak tahan.... sakit sekali...”
Dokter menanyakan riwayat kesehatannya, karena mereka pikir usus buntu. Aku jelaskan nggak dok, usus buntunya sudah dioperasi 11tahun yang lalu. Diberikan obat penahan rasa sakit lewat suntikan dan anus pun nggak membantu keadaannya. Dokter akhirnya bilang, bu, saya kasih lagi penahan sakit, ini sudah masuk jenis narkotik, jadi nanti bapak akan merasa pusing sedikit. Aku cuma bisa bilang ok, apa saja yang bisa membuat Roy bisa lebih baik.
Setelah suntikan terakhir diberikan kembali dokter menanyakan keadaan Roy tapi dia belum bisa menjawab karena kesakitan sekali. Dokter sudah bilang nggak bisa kasih dosis lebih tinggi lagi karena jumlah yang diberikan sudah dibatas maksimal. Akhirnya aku cuma bisa menghiburnya untuk bertahan, berharap keadaan lebih baik. Ditengah-tengah dia kesakitan masih sempet lho ingetin aku untuk jemput Tara disekolah. Aduh, Tara pasti kehilangan papa karena biasanya tiap hari selalu dijemput.
Alhamdulilah obatnya mulai bereaksi, rasa sakit yang luar biasa itu mulai mereda. Roy dibawa keruang lain untuk USG dan dari hasil USG terlihat bahwa serangan sakit luar biasa itu adalah colic ginjal. Ternyata ada kristal batu yang keluar dari ginjalnya sehingga mengakibatkan iritasi pada seluruh bagian kemihnya. Kasihan sekali.
Aku nggak lama di UGD, mungkin sekitar 45 menit tapi rasanya berjam-jam. Antara bingung harus berbuat apa, mau urus administrasi tapi nggak tega ninggalin Roy. Untung ada mbak Didit yang banyak banget membantu. Seluruh keluarga udah ditelpon, mereka juga kaget dan banyak tanya ini itu tapi sayangnya aku juga nggak bisa kasih penjelasan detail mengenai keadaan Roy.
Akhirnya Roy dibawa keruang perawatan dengan infus-infus bergelantungan. Dia sudah tertidur. Aku pun rasanya teler...., mungkin karena terlalu banyak pikiran ini itu berseliweran dikepala ini.