Wednesday, January 16, 2008

maafkan kami...

Aku memutuskan untuk tidak kekantor karena Tara nggak ada yang jaga, kasian. Seperti biasa papa Roy selalu bangun lebih pagi, tertib, namanya juga atlit. Bangun pagi, rutinitas pagi dikamar mandi, sarapan, mandi dan naik kuda. Sementara si mama dan putri kecilnya masih terlelap dibawah selimut tebal. Aku sudah merencanakan mumpung dirumah, nggak ada mbak-nya, mau mengajak Tara jalan-jalan keliling daerah rumah. Kebetulan banget bu Leha bilang kalau dia mau belanja sayur di dekat komplek, pas deh, sekalian ajak Tara.

Setelah minum susu dan ganti baju (minus mandi) kami bertiga jalan kaki ke komplek Lemigas dekat rumah, mau belanja sayur ceritanya. Sepanjang perjalanan Tara begitu gembira, ada aja yang dikomentarinya dengan tata bahasa yang mulai jelas. Kami juga melewati sebuah TK, mendadak dia berhenti didepan sekolah dan bilang, ”aku mau skoah..., aku mau skoah!” sambil menarik-narik tanganku untuk masuk kesekolah tersebut. Berhasil dibujuk karena mendadak perhatiannya tertuju pada ayam-ayam liar yang berlarian didepannya. ”mama... aku mau ciken.... ciken.....”, senang sekali melihatnya begitu gembira.

Sambil menunggu bu Leha berbelanja sayur, Tara disibukkan dengan kucing-kucing disekitar rumah-rumah penduduk komplek. Lari kesana kemari sampai aku sendiri kewalahan mengikutinya,maklum deh, dengan perut sebesar ini nggak gampang untuk lari-lari mengikuti anak umur 2.5 tahun yang nggak ada capeknya. Dalam perjalanan pulang kami melewati TK lagi dan Tara bener-bener nggak bisa dilarang lagi. Langsung ngambek pengen masuk dan ikut sekolah. Dibujuk ini itu nggak manjur akhirnya mama ambil jalan pintas, gendong dan bawa pulang. Waduhhhh, dia marahnya minta ampun, memberontak karena kepengen ikut sekolah.

Sampai dirumah dengan tersedu-sedu Tara mengadu pada sang papa sambil berkata, ”aku mau skoah...., aku mau skolah....” sabar ya nak, kan sebentar lagi Tara juga akan masuk sekolah. Sejak ngambek pengen sekolah, trus merembet ngambek pengen naik kuda, ngadat makan, pokoknya hari itu heboh dengan segala protes dan ngambeknya dia akan segala hal. Kata si papa, ”aku heran deh, setiap kamu dirumah dia selalu begini”. Jadi sedih deh, aku berpikir mungkin Tara sedang manja, karena hari-hari yang dilaluinya hampir selalu tanpa kehadiran mama-nya, jadi sekalinya si mama ada semua ulah yang aneh-aneh keluar.

Ngambek berlanjut hingga makan malam, dan akhirnya si papa sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Papa dah bete berat karena setiap mau disuap Tara selalu bilang, ”NO!” sambil balik badan. Ditinggal mewek, diancam ga tidur sama kita marah, gak karu-karuan deh pokoknya. Alhasil si papa bener-bener murka dan marahlah dia.
Dengan suara menggelegar, papa memanggil Tara dan langsung dia menangis keras. Tapi itu tidak berlangsung lama karena papa langsung bilang, ”jangan nangis!”. Aku tau dia berusaha keras menahan tangis, dadanya naik turun. Pengen peluk mamanya tapi papa bilang, ”tidak manja-manja, liat papa, kenapa kamu rewel banget!”

Duh, terus terang aku nggak tega, aku juga tau si papa juga ga tega tapi ya kami harus satu suara. Akhirnya aku peluk Tara, dan perlahan dia terisak-isak dipelukanku. Pelukannya erat sekali, tanpa terasa aku pun meneteskan air mata. Aku pun tahu papa Roy menyesal dan ikut sedih. Dia mencoba mengambil Tara dari pelukanku dan aku pun berusaha membujuknya untuk mau dipeluk papa, tapi pelukannya begitu kuat. Setelah sedu sedannya mereda barulah papa Roy berhasil memeluknya dan tangisnya pun pecah. Setelah itu perlahan-lahan barulah papa Roy berhasil mengajaknya berbicara dan menasehatinya.

Suasana mereda dan Tara sudah tenang kembali. Tertidur kelelahan. Kami berdua menemani disisinya. Matanya terpejam dan wajahnya begitu polos tak berdosa. Tak terasa air mata menitik, membayangkan wajah polos ini menangis terisak. Ya Tuhan, berilah kami kekuatan agar bisa menjadi orangtua yang bijaksana dan mampu membesarkan dan mendidik titipan-Mu hingga menjadi anak yang baik. Maafkan kami jika kami terkadang lupa dan khilaf, titipan-Mu hanyalah seorang bocah kecil yang belum mengerti kalau orang tuanya lelah bekerja dan kurang memiliki kesabaran. Maafkan kami nak, kami berjanji dan berjuang agar bisa meluangkan lebih banyak waktu untukmu sehingga engkau bisa bermanja dan bermain dengan kami sesuka hati.

5 comments:

sili said...

hikshiks...tante juga ikut menangis nih...
gpp titien..., anak kecil harus diajarin sejak dini. walaupun dia keliatannya masih kecil bgt, tp otaknya udah jalan...dan dia akan mencari peluang disaat kita lemah. duh, percaya deh...tindakan spt papa roy itu sekali2 perlu. asal jgn tiap hari lho..emang nggak tega sih, tp memang dari situ tara belajar mengerti...

lho..ini tante baik apa tante devil sih?

titien irvianty said...

ya sih tante sili, aku juga tau kalau sometimes 'shock terapy' diperlukan. abis gimana, kadang bandel ga ketulungan, kapan lagi bisa diajarin kalau nggak sekarang?

makanya aku sekata aja sama papa roy, kita pokoknya nggak mau plin plan, kalau yang satu marah berarti memang dia salah. tapi ya teteffff mamak mamak kayak ini kan cengeng bener.... hiksss .. hiksss...

Dhona said...

Ngebaca postingan Titien ini kebayang deh yang terjadi ama aku juga. Emang susah banget ya jadi orang tua yang punya segudang kesabaran. Kadang bisa emosi juga sih. Aku juga lagi belajar nih buat lebih sabar.

dita said...

sabar ya Tien n papa Roy, umur segini emang lagi seneng2nya "bertingkah". Kadang menguji kesabaran kita. Yang terpenting kalo dia udah reda, kita harus ngajarin minta maaf. Ajarin si Tara minta maaf dan kitapun minta maaf atas kemarahan kita dan tekenin dia gak bole begitu lagi supaya mama papa gak marah. *sigh* gw tau rasanya kok Tien.

titien irvianty said...

duhhhh.. makasi ya saran-sarannya. emang ternyata jadi orang tua kudu punya kesabaran luar biasa. ternyata jadi orang tua pun merupakan 'sekolah' buat kita krn bisa belajar banyak dari anak-anak kita yang bener-bener masih polos.

sabar.... sabar... sabar.....