Tuesday, May 15, 2007

nassim road, singapore

Ini bukan perjalananku yang pertama kali ke Singapore, tapi yang membedakannya kali ini adalah aku nggak tinggal di hotel, tapi dirumah seorang teman. Mereka adalah keluarga Jerman yang sangat ramah. Tiba di Singapore hari Jumat sore langsung menuju Bukit Timah Saddle Club, seluruh program acara hari itu selesai sekitar jam 7 malam. Makan malam dulu dengan Shirley dan Ellen disebuah resto Itali yang hmmm yummy banget, kaget karena melihat pesanan yang datang ternyata porsinya besar dan anehnya.... kok habis ya????? (ternyata kelaparan!) Hahahaha... jadi nggak enak sendiri, dah sibuk bilang porsinya besar tapi beberapa menit kemudian piringnya bersih!.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah Jeanette, Shirley dan Ellen sudah bilang bahwa daerah tempat beliau tinggal enak banget, deket dengan Orchard Road dan nyaman. Aku cuma bilang okey... karena udah capek dan udah malam, jadi nggak terlalu memperhatikan sekeliling. Sampai dirumah tersebut aku sempet kaget, ya ampun... nggak nyangka tempatnya nyaman banget. Rumahnya tua, gaya jaman kolonial dengan warna yang didominasi warna putih dan hitam. Walaupun rumah tua, mereka merawatnya dengan sangat baik. Setelah mandi, kita ngobrol-ngobrol diteras depan dan mereka cerita sudah tinggal disana selama 11 tahun.

Seperti biasa, karena kecapean (baca: wait for meeeee......!!!!) berjuang dari pagi tadi, trus sibuk di BTSC, malam pertama disana aku bener-bener tewas (bukannya selalu? :((). Keesokan harinya setelah seluruh program acara pertandingan selesai dan aku kembali kerumah, aku baru bener-bener bisa merasakan kenyamanan rumah ini. Kayaknya rumah ini nggak pernah terkunci sepanjang hari, duhhh enaknya. Aku tanya sama yang punya rumah ternyata benar, mereka merasa aman aja didaerah tersebut. Rumahnya dikelilingi oleh pohon-pohon besar, seperti berada ditegah-tengah hutan. Sore itu aku memutuskan mau jalan-jalan sendiri, alias beneran jalan kaki ke Orhard Road. Tujuan udah pasti, toko buku Borders di Wheelock.

Aku sangat mencintai acara jalan kaki, tapi sayangnya di Jakarta nggak mungkin ini bisa dilakukan, mana ada tempat buat pejalan kaki. Pedestrian area sudah dimonopoli oleh menjaja kaki lima dan pengemudi motor yang nggak tau aturan. Duhhh sedih banget kalo inget negara sendiri. Perjalanan menuju Orchard Road sore itu nyamannnn banget, melewat beberapa kedutaan, Philippines, Jepang dan Saudi Arabia, akhirnya aku sampai juga di Tanglin Road. Heran, negara sekecil ini kok bisa-bisanya punya pohon-pohon yang luar biasa besar, tua dan dilindungi, sementara kita di Jakarta, gersang semua. Hiks....

Sepanjang sore aku hanya duduk dan membaca dengan manis di Borders, kalau pegel jalan-jalan, makan dan kembali ke Borders. Hmmmm, kalau dipikir-pikir udah lama banget aku nggak menikmati waktu sendiri seperti ini, membaca, makan, minum...tanpa diganggu siapa-siapa. Nyaman sekali rasanya. Walaupun sebagian isi kepala ada di Jakarta, membayangkan wajah putri kecilku, sedang apa dia disana, tapi aku benar-benar menikmati sore itu. Apalagi hujan turun lumayan deras. Segelas kopi panas dan majalah rasanya cocok banget deh.

Menjelang malam aku bertemu teman lama, ngobrol kekanan kekiri sambil menikmati makan malam yang minimalis (aku udah kebanyakan makan soalnya!), nggak terasa udah saatnya harus pulang. Ya pas juga sih, kaki udah pegel, capek dan ngantuk. Aku memutuskan pulang naik taksi, bukan karena takut pulang jalan kaki, tapi gerimis masih turun, daripada sakit ya cari aman aja deh. Hmmm, kapan lagi aku bisa menikmati jalan kaki seperti hari itu...., Nassim Road...., bersih, nyaman, aman dengan suara-suara burung yang masih begitu terasa alami.

1 comments:

Dhona said...

Tin, itu rumah keliatannya adem banget. Pasti senang deh berada di rumah itu. Rumah impianku banget. Dikelilling pohon-pohon yang rindang, trus masih ada kicauan burung. Aduh senangnya.

Btw, dari Singapore nggak bawa oleh-oleh ya?