Sunday, October 25, 2009

Team of five...

Saat yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Setelah bolak balik gelisah dan bertanya-tanya kenapa ya si dede kecil gak lahir-lahir juga, Jumat 18 September 2009 pukul 08:51 akhirnya sikecil mungil itu lahir juga.

Alhamdulillah proses kelahiran berjalan lancar, tentunya sama seperti yang dialami ibu-ibu lain yang namanya melahirkan nggak ada yang nggak sakit. Tapi ya sudahlah yang terpenting kami berdua dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang apapun.

Kami memberinya nama Fabian Arya Ibrahim kepadanya. Agak melenceng dari niat awal siy kalo anak cewek depannya T, sama ama mamanya dan cowok R sama ama papanya. Kok sekarang jadi Fabian? Sejak memutuskan menjalankan bisnis sling dan apron Tarafa (awalnya gabungan nama Tara dan Rafa), aku berniat bahwa bisnis tersebut untuk kedua anakku. Tapi kini sudah ada sikecil mungil, bontot dalam keluarga kami yang harusnya juga menjadi bagian dari bisnis tersebut.

Nah, kami memikirkan nama apa yang bisa nyambung ke Tarafa. Jadilah kami memutuskan TA untuk Tara, RA untuk Rafael dan FA untuk Fabian. Kali ini papa Roy yang kasih nama setelah 2 anak sebelumnya aku terus yang kasih nama. Mudah-mudahan nama tersebut menjadi awal yang baik bagi kami semua.

Bahagia tak terhingga rasanya melihat baby Fabian tertelungkup didadaku, mencari-cari susu pada menit-menit awal kelahirannya. Rambut Fabian begitu tebal, beda dengan kakak-kakaknya. Kulitnya pun begitu putih bersih dan tangisnya keras sekali. Selamat datang didunia nak.

Tanpa terasa air mataku menetes, aku teringat 9 bulan yang lalu, pada saat aku mengetahui ada janin yang sedang tumbuh dan berkembang. Dan bagaimana perasaanku pada saat mengetahui bahwa aku hamil. Ya Tuhan, betapa berdosanya kami telah menolak kehadirannya pada saat itu. Betapa berdosanya kami pada bayi mungil ini.

Alhamdulillah Tuhan memberikan kami kekuatan dan keyakinan untuk mempertahankannya, ditengah ketidakpastian, ditengah keraguan dan ditengah segala persoalan dalam keluarga kami. Kini bayi mungil itu telah lahir, sehat tanpa kurang apapun. Terima kasih Tuhan telah memberikan kebahagiaan ekstra dalam rumah kami.

Keluarga kecil kami, rumah kecil kami terasa lengkap dengan kehadiran Tara dan Rafael, ternyata Tuhan begitu sayang kepada kami sehingga kami diberikan kebahagiaan ekstra, baby Fabian. Hanya kami mungkin yang tahu bagaimana bahagianya melihat baby Abi lahir, karena kami juga sadar perjuangan selama masa kehamilan yang tidak mudah. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah atas titipan yang luar biasa ini. Kini kami menjadi "Team of Five", super duper bahagianya.....

Monday, August 31, 2009

menghitung hari (lagi!)

Haduh...., sudah sampai detik-detik terakhir penantian kelahiran malaikat ketiga dalam rumah kecil kami. Deg-degan banget rasanya, padahal udah anak ketiga lho. Temen-temenku bilang, aduh Tien...., dua aja lo bisa survive melahirkan normal, please deh, ini kan udah nomer tiga? Takut apanya lagi?

Kalau flash back beberapa bulan lalu rasanya waktu terbang cepat. Jadi inget gimana waktu itu aku menolak kehadiran si kecil dalam kandungan ini, dengan alasan financial nggak siap. Untunglah punya dokter yang amat sangat bijaksana, mau membantuku melihat dari sudut pandang berbeda sehingga membuka hatiku kalau anak ini adalah karuniaNya, yang tidak semata-mata kami sebagai orang tua yang memutuskan nasib dia boleh hidup atau tidak. Duh, rasa berdosa itu kini muncul lagi. Ampuni kami ya Tuhan.

Alhamdulillah kehidupanku sekarang sudah amat sangat jauh berbeda dengan beberapa bulan yang lalu sewaktu masih kerja kantoran. Sekarang aku lebih banyak waktu untuk keluarga dan anak-anak, walaupun sesekali masih disibukkan dengan berbagai macam urusan, tetapi aku yang mengatur waktunya. Bisnis Tarafa juga berjalan lancar, kembali kuucapkan syukur kepadaNya, tanpa restu dan kekuatan yang diberikanNya nggak mungkin langkah nekat ini pernah kuambil.

Keluar dari kenyamanan memang amat sangat sulit, akan tetapi jika kita punya alasan kuat melakukannya dan punya tekat tidak gampang menyerah, aku rasa rintangan apapun akan bisa kita lewati. Insya Allah. Sekali lagi Tuhan, berikan aku kekuatan dan kerendahan hati untuk tetap mau belajar dan belajar. Rasanya memang tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua yang baik selain menjalaninya sendiri.

Mudah-mudahan semua keputusan yang pernah aku ambil demi malaikat-malaikat kecil ini tidak sia-sia. Mudahkanlah jalan kami ya Allah....
Semoga proses melahirkan dapat berjalan lancar, semoga bayi yang kulahirkan sehat tanpa kurang apapun, semoga aku diberikan kekuatan untuk merawat dan membesarkannya sehingga menjadi anak yang berguna. Aminnnn.....

Thursday, May 07, 2009

akhirnya...

Lama sekali rasanya nggak bergaul didunia maya, again alasan sibuk sibuk sibuk dan sibuk. Nggak ada waktu buat blogging. Rasanya 24 jam kurang. Brangkat pagi pulang malam. Kejar-kejaran dengan kerjaan ini itu. Standard banget. Bahkan waktu untuk si printil-printil kecil pun amat sangat sedikit. Apalagi mikirin diri sendiri. Dengan kehamilan ke-3 ini rasanya mendadak kesehatanku drop banget. Bulan lalu masuk emergency hanya karena "kehabisan bensin" istilah dokter alias bener-bener kecapean. Akhirnya virus masuk tanpa basa basi dan bobol lah pertahanan. Alhamdulillah akhirnya tidak ada apa-apa dengan sikecil mungil dalam perutku. Istirahat.. istirahat.., dan tenangkan pikiran itu aja pesan dokter.

Rasanya hidup ini jauuuuhhh dari seimbang, nggak bener banget. Kerja mulai nggak hepi. ibadah berantakan. Mulai berpikir harus berani mengambil langkah yang sedikit unusual alias agak radikal. Rasanya sudah cukup aku mengorbankan kesehatanku sendiri, bahkan anak-anak (yang terpenting). Ambil keputusan setelah project terakhir selesai rutinitas kantoran berhenti sejenak. Rasanya gamang banget karena selama 15 tahun terakhir aku selalu sibuk dengan yang namanya "opis awer" 9 to 5. Brangkat gelap pulang sudah gelap karena rumahnya jauh banget.

Stress? Jelas! Memikirkan bagaimana keluarga ini bisa survive. Tapi aku kembali memikirkan apa sih sebenarnya tujuan hidup ini? Kerja thok? Cari uang yang nggak akan pernah cukup? Trus.... bagaimana dengan buah hati kecilku? Tara sudah besar dan sudah bisa protes. Kalau aku pulang malam dan kebetulan dia belum tidur selalu bertanya, "mom...., why u r so late?" Pernah sekali nggak ngantor karena badan rontok banget dan dia bertanya, "u r not going to the office?" Pas aku bilang nggak dia spontan teriak, "horeeeee!!! paa.... momy's stay at home!!!" Pada saat itu aku bukannya tersenyum tapi malah menangis. Kemana saja aku selama ini, sibuk dengan dunia sendiri? Sekalipun sakit aku sempatkan untuk mengantar dan menjemput dia pulang sekolah. Seandainya ini bisa aku lakukan setiap hari.

Langkah nekat ini akhirnya aku ungkapkan juga ke kantor, apa boleh buat. Kesehatan dan keluarga diatas segala-galanya. Rejeki bisa dicari dengan cara lain. Tekat sudah bulat dan mulai Juni ini aku akan "berkantor" dirumah. Insya Allah semua berjalan lancar.

tarafa



Ide ini ada sebetulnya sejak akhir tahun lalu. Melihat dari pengalaman sendiri kalau menggendong anak-anak pake kain panjang itu susah banget alias nggak mungkin deh karena melorot terus. Mungkin nggak secanggih mbok-mbok ya karena kalau melihat mereka menggendong dengan kain kok nyaman banget.

Mulai deh berinovasi pengen bikin yang rada lain. Sampai akhirnya ide tersebut sekarang menjadi kenyataan. Phewww... dari survey mencari raw material, penjahit, brand, logo dan filisofinya, partner, website, daftar merek dan tetek bengek lainnya akhirnya bulan ini resmi deh www.tarafaslings.com launching.

Walaupun belum sempurna dan jauh dari sempurna, ini adalah pilot project usaha sendiri. Usaha yang benar-benar dilandasi dari kebutuhan dan keinginan dari hati terdalam untuk memulai usaha dari rumah. Semoga diberikan kelancaran olehNya.

Nina adalah partner yang seru dengan ide-idenya. Mau kerja keras dan ceplas ceplos. Membuat pekerjaan ini fun banget untuk dilakukan. Cihuyyyy... semoga laris manis.

Friday, February 13, 2009

terima kasih Tuhan…

Pagi itu aku dikejutkan dengan hasil test yang rasanya membuat jantungku copot, jatuh sampe ke jempol kaki. Dua garis? Positif? Oh No….., itulah pikiran yang terlintas saat mengetahui bahwa aku sedang hamil (lagi!), mana saat itu nggak ada yang bisa aku ajak bicara, Roy sedang di S’pore karena ada pertandingan. Nggak sabar nunggu dia pulang rasanya.

Beberapa menit kemudian aku pun dikejutkan dengan berita kepergian Denzel, anak dari sahabat masa kecilku di Tarki dulu. Akhirnya Tuhan memanggil anak tak berdosa itu setelah berminggu-minggu berjuang melawan Rhabdomyosarcoma, sejenis kanker otot yang diketahui sudah mencapai stadium akhir. Bocah 22 bulan itu pun berpulang kepadaNya.

Ada semacam perasaan aneh dalam hati ini. Baru saja aku mengetahui ada kehidupan baru didalam badanku, seorang calon bayi mungil, yang hadir tanpa diduga dan direncanakan, dan ada perasaan kuat menolak kehadirannya. Disisi lain, begitu banyak keluarga yang mendambakan kehadiran buah hati mereka akan tetapi hingga saat ini masih terus berharap. Juga sebuah keluarga yang teramat sangat mengharapkan kehadiran seorang bocah kecil, ketika anak itu lahir, kemudian dia dipanggil kembali mengharapNya. Tentunya kejadian tersebut membuat sebuah bekas luka yang teramat dalam bagi orangtuanya.

Hari Minggu itu lewat begitu cepat…, aku nggak sempat memikirkan tentang kehamilanku lagi karena seharian sibuk membantu proses pemakaman. Aku sempat sms Roy dan menyampaikan berita kehamilan ini, dia juga shock. Dalam sms-ku aku hanya menulis singkat, “Roy, I’m not ready!” dan dijawab singkat juga, “Me too!”

Hampir tengah malam Roy pulang dan kami sama-sama memutuskan bahwa kami sungguh-sungguh tidak siap menerima kehadiran bayi tak berdosa ini.

Senin sore kami berdua mengunjungi dokter kandungan, memeriksakan diri dan menyampaikan bahwa aku sudah positif hamil. Kami menyampaikan alasan-alasan kenapa kami tidak siap menerima kehadiran anak ini. Alhamdulillah kami memiliki dokter yang amat sangat bijaksana, tidak memikirkan hanya materi. Beliau menasehati kami, berbicara dari hati ke hati dan menguatkan kami bahwa kami harus mempertahankan anak ini.

Kami tetap pada keputusan tidak siap.

Sampai akhirnya dokter mengatakan, “Coba kita periksa dulu keadaan janin-nya.” Aku tetap diam, nggak tahu harus berbuat apa dan berkata apa lagi. Pada saat mataku menatap layar monitor, terlihat jelas sebuah janin bergerak-gerak, pada saat yang sama dokter membesarkan volume sehingga terdengar jelas suara yang jantung yang begitu keras dan teratur. Aku tetap menatap layar monitor dan tanpa terasa air mataku menetes dan tidak mau berhenti menetes.

Ya Tuhan…., aku berdosa telah menolaknya, tidak menginginkan kehadirannya. Detak jantungnya itu begitu keras berbunyi, seolah-olah berteriak ingin menyampaikan pesan kepadaku, “mom…, don’t kill me!” Hanya dalam hitungan detik keputusan bulat tersebut telah berubah.

Dokterku hanya menyampaikan pesan padaku, “kamu coba dengarkan benar-benar apa kata hati kamu, jangan memikirkan suami atau siapapun, karena apa yang kamu rasakan hanya badan kamu yang tahu karena dia ada didalam badan kamu”. Aku sama sekali tidak melihat Roy dalam pengambilan keputusan ini karena apapun keputusanku, aku amat yakin dia pasti memberikan dukungan.

Tidak ada kata-kata yang paling tepat yang dapat menggambarkan perasaanku saat ini. Kami bersyukur Tuhan telah memberikan kepercayaan kepada kami sekali lagi, dengan menitipkan anak ini kepada kami. Saat aku mencoba memikirkan keluarga-keluarga lain diluar sana, yang amat sangat mendambakan buah hati, kehilangan buah hati, perasaan itu makin kuat. Aku akan membesarkan dan mendidik anak ini, titipanNya yang amat sangat berharga. Kami bersyukur atas karunia ini dan mohon ampun karena sesaat kami terlalu memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi yang membuat kami sempat menolaknya.

Saat ini kami bersuka cita mempersiapkan kehadiran malaikat kecil dalam rumah kami. Tuhan telah memberikan kami dua orang malaikat yang awalnya kami pikir cukup, ternyata karunia memang tidak bisa kita tolak, jika Dia menginginkan itu terjadi pada kita. Kami diberikan rejeki untuk menerima malaikat ketiga. Rumah kami akan bertambah ramai.

Hal-hal lain telah kami pasrahkan padaNya. Biarlah semua diatur olehNya. Kami yakin semua sudah dipersiapkan untuk meyambut kehadiran malaikat kecil kami.

Tuesday, September 30, 2008

selamat idul fitri


(klik aja kalo kurang jelas!)

Monday, September 01, 2008

roy sakit

Tepat 3 hari setelah kepulangan papa Roy dari Hongkong tiba-tiba aku dikejutkan oleh telpon dari mbak Didit, pagi-pagi pas lagi dikantor ”mbak, ini Didit lagi dikandang. Pak Roy kesakitan, saya lagi nunggu taksi mau bawa beliau ke rumah sakit.” Singkat dan jelas tapi membuat aku shock bukan kepalang.

Langsung pertanyaan-pertanyaan dan dugaan-dugaan mampir dikepala.
”Roy jatuh dari kuda mbak? Sekarang gimana? Saya bisa bicara?”, pertanyaan panik. ”Nggak mbak, nggak jatuh”, lalu aku lanjut tanya ”Punggung nya sakit lagi?”

Nggak sabar rasanya, tapi menurut mbak Didit, Roy gak jatuh sama sekali, nggak mengeluh sakit punggung tapi malah sakit dibagian perut. Sakit luar biasa sampai-sampai dia harus digotong begitu turun dari kuda. Tanpa pikir panjang aku memutuskan langsung kerumah sakit, sementara mbak Didit masih menunggu taxi. Duh..., saat-saat kayak gini Yono nggak ada, beli makanan anjing katanya. Gak tepat waktu banget.

Sampai Rumah Sakit Puri Cinere aku langsung menuju UGD, lihat kebagian dalam belum ada tanda-tanda ada Roy disana. Telpon mbak Didit ternyata masih didekat perempatan bekas bioskop Dinasti, macet. Nunggu gini rasanya nggak enak banget ya karena aku kan nggak tahu pasti keadaan Roy, nggak tahu pasti seberapa sakit dia, nggak tahu pula sakit apa.

Setengah jam lewat, akhirnya Roy datang ditemani mbak Didit dan pak Ketut. Nggak bisa keluar dari taksi karena kesakitan, pake kursi roda. Aduh, aku nggak tega ya liat dia kayak gitu, menderita sekali. DI UGD langsung ditanya sakit dibagian mana, tapi Roy nggak bisa menggambarkan secara jelas sakit dibagian apa. Dia hanya memegang perut bagian kiri bawah, ditanya pun nggak bisa jawab. Yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata ”aduh.... sakit.., aku nggak tahan.... sakit sekali...”

Dokter menanyakan riwayat kesehatannya, karena mereka pikir usus buntu. Aku jelaskan nggak dok, usus buntunya sudah dioperasi 11tahun yang lalu. Diberikan obat penahan rasa sakit lewat suntikan dan anus pun nggak membantu keadaannya. Dokter akhirnya bilang, bu, saya kasih lagi penahan sakit, ini sudah masuk jenis narkotik, jadi nanti bapak akan merasa pusing sedikit. Aku cuma bisa bilang ok, apa saja yang bisa membuat Roy bisa lebih baik.

Setelah suntikan terakhir diberikan kembali dokter menanyakan keadaan Roy tapi dia belum bisa menjawab karena kesakitan sekali. Dokter sudah bilang nggak bisa kasih dosis lebih tinggi lagi karena jumlah yang diberikan sudah dibatas maksimal. Akhirnya aku cuma bisa menghiburnya untuk bertahan, berharap keadaan lebih baik. Ditengah-tengah dia kesakitan masih sempet lho ingetin aku untuk jemput Tara disekolah. Aduh, Tara pasti kehilangan papa karena biasanya tiap hari selalu dijemput.

Alhamdulilah obatnya mulai bereaksi, rasa sakit yang luar biasa itu mulai mereda. Roy dibawa keruang lain untuk USG dan dari hasil USG terlihat bahwa serangan sakit luar biasa itu adalah colic ginjal. Ternyata ada kristal batu yang keluar dari ginjalnya sehingga mengakibatkan iritasi pada seluruh bagian kemihnya. Kasihan sekali.

Aku nggak lama di UGD, mungkin sekitar 45 menit tapi rasanya berjam-jam. Antara bingung harus berbuat apa, mau urus administrasi tapi nggak tega ninggalin Roy. Untung ada mbak Didit yang banyak banget membantu. Seluruh keluarga udah ditelpon, mereka juga kaget dan banyak tanya ini itu tapi sayangnya aku juga nggak bisa kasih penjelasan detail mengenai keadaan Roy.

Akhirnya Roy dibawa keruang perawatan dengan infus-infus bergelantungan. Dia sudah tertidur. Aku pun rasanya teler...., mungkin karena terlalu banyak pikiran ini itu berseliweran dikepala ini.

Monday, August 11, 2008

kembali kekantor

Seminggu dirumah rasanya senang sekali walaupun dirumah karena harus istirahat sakit, aku ambil hikmah nya saja. Pertama, bisa menyusui Rafa langsung. Kasian lho, anakku yang satu ini bener-bener jarang disusui langsung oleh ibunya. Sejujurnya, kalau ada orang bertanya kenapa sih aku gigih sekali mau berjuang untuk asix, jawabnya sih simpel aja, karena asi adalah makanan terbaik dan alasan personal lain karena aku sebenarnya merasa berdosa telah meninggalkan buah hati kecilku sejak dia berusia 3 minggu.

Kalau kebanyakan ibu-ibu bekerja bisa bersama sikecil hingga berusia 3 bulan, dapat cuti melahirkan dan istirahat dirumah 3 bulan, bisa recovery dengan hati tenang, bisa menikmati saat-saat bersama si kecil, dan bisa mempersiapkan asip menjelang kembali bekerja...., sayang sekali aku tidak bisa merasakan itu semua. Banyak hal yang tentunya tidak bisa aku ungkapkan disini. Dengan latar belakang itu aku sudah membulatkan tekat bahwa tidak ada yang bisa menghalangi aku untuk memberikan yang terbaik untuk Rafa.

Jika waktu aku tidak bisa berikan untuknya, sebisa mungkin aku harus bisa memperjuangkan asix untuknya. Jika Rafa nanti lulus asix (bulan depan lho tanggal 19), aku akan share lebih dalam jatuh bangun aku mempersiapkan asip karena padatnya jadwal travelling diakhir minggu dan bekerja dihari biasa. Mungkin sharing tersebut bisa menjawab pertanyaan, kapan memerah asinya kalau setiap hari pergi pagi pulang malam dan weekend juga pergi?

Minggu ini berat sekali rasanya harus kekantor lagi. Disatu sisi aku senang karena kesehatan sudah pulih, berarti istirahat selama seminggu benar-benar efektif di sisi lain sedih karena Rafa harus kembali menjadi anak botol susu hehe....
Sabar..., sabar..., aku selalu menyemangati diri sendiri kalau keinginan menjadi FTM belum kesampaian juga. Kerja..., kerja...., kerja..., kerja.......